Sumber Sejarah Kerajaan Kutai dan Efeknya Terhadap Masa Kini

Prasasti tertua yang pernah diketahui dan ditemukan di kepulauan negara Indonesia adalah 7 Yuupa yang berupa pilar batu dari kerajaan kuno.

Dikarenakan temuan ini hadir di daerah Kalimantan Timur, maka menjadi cikal bakal dari sumber sejarah Kerajaan Kutai sekaligus dinobatkan menjadi kerajaan tertua di Indonesia yang berhasil tercatat sejarah peradaban manusia.

Ditulis dalam aksara Pallava awal, prasasti Sansekerta ini sebenarnya didirikan untuk memperingati pengorbanan yang dilakukan oleh Raja Mulawarman.

Namun siapa sangka, berdasarkan data paleografi, ternyata prasasti ini menjadi salah satu bukti nyata dari Kejaraan Kutai yang diduga hadir pada paruh kedua abad keempat.

Meskipun berupa prasasti pendek yang berjajar sebanyak kurang dari 50, akan tetapi menjadi elemen terpenting terhadap ilmu pengetahuan demi mempelajari asal-usul kehidupan Indonesia di lebih dari satu milenium ini.

Nama-Nama Raja yang Tercatat

Faktanya, prasasti tersebut tak menuliskan secara implisit mengenai nama dari kerajaan tersebut. Sebagai gantinya, ada 3 nama raja yang terekam di sana.

Nama-nama ini diduga sebagai raja 3 generasi yang menguasai daerah Kutai, diantaranya adalah:

  • Mulawarman, disebut juga sebagai Raja yang Memerintah, dan Raja di Atas Segala Raja.
  • Aswawarman, sang ayah dari Mulawarman sebagai pendiri dinasti.
  • Kundungga, sang kakek dairi Mulawarman sebagai penguasa manusia.

Namun uniknya, ada kesepakatan bahwa Kundungga bukanlah nama yang berasal dari bahasa Sansekerta, sehingga kemungkinan besar kakeknya Mulawarman memang seorang penduduk asli Kalimantan.

Kehidupan Masa Kini

Hiruk pikuk kehidupan di masa lalu tersebut berhasil membawa peradaban dan kebudayaan hingga masa kini.

Misalnya, nama Kutai masih digunakan sebagai bagian dari Kabupaten Kutai Kartenagara yang dipimpin oleh seorang bupati yang berada di bawah naungan Pemerintahan Daerah Provinsi Kalimantan Timur.

Masyarakatnya juga masih disebut sebagai suku Kutai atau Orang Kutai yang berasal dari kelompok etnis Melayu, yang juga diyakini sebagai keturunan orang Dayak Ot Danum dan beralih kepercayaan menjadi beragama Islam.

Sementara bahasa tradisionalnya sendiri juga masih menggunakan bahasa Kutai Tanggarong dan dianggap sebagai salah satu dari ragam bahasa Melayu.